Selasa, 11 September 2012

Penelusuran Karst Citata, Padalarang

Karst Padalarang, 9 September 2012
Minggu pagi ini menjadi waktu yang tepat untuk menggerakkan badan dan melihat citra kuasa tanganNya lewat bentuk alam yang tebentang di atas cakrawala. Jadi tidak salah jika aku menjadi salah satu peserta rombongan ‘Geotrek’ yang diadakan oleh HMTG ‘GEA’ ITB sebagai salah satu kegiatan dari rangkaian GSC. Acara GSC ini menurut seorang ‘gea’ adalah proker dwi tahunan yang bertujuan mengenalkan ilmu geologi kepada khalayak luas. Sehingga muncullah geotrek sebagai ‘ajakan’ kepada masa kampus untuk melihat semenarik apa bidang geologi ini. 

Tidak terlalu jauh (sekitar 20 km) dari Jl. Ganesha terdapat jajaran bukit karst di daerah Padalarang. Karst berarti daerah yang terdiri dari batuan kapur atau batuan gamping yang unsur utamanya adalah CaCO3 (kalsium karbonat) . Kalsium inilah yang kemudian dapat diolah menjadi berbagai pemenuh kebutuhan sehari – hari manusia, seperti cat tembok ; pasta gigi ; semen ; pemurnian gula ; dan lain – lain. Namun alangkah terlalu biasanya jika perjalanan ini hanya untuk melihat daerah pertambangan kapur tanpa suguhan fenomena alam. Proses pelarutan kapur menjadi aktor utama dalam membentuk fenomena alam yang setidaknya membuat anda tersenyum dan berdecak kagum. Proses ini terjadi dengan bantuan dua actor utama yaitu air (H2O) dan udara (O2). Merekalah yang akhirnya mengionisasi kalsium karbonat menjadi ion kalsium (Ca2+). Inilah penyebab terbentuknya natural arch bridge pada gunung Hawu, atau fenomena yang mungkin lebih familiar kita dengar stalagmit dan stalagtit pada langit – langit maupun lantai gua. Rute geotrek pun diplot untuk memamerkan fenomena tersebut dan Bapak Budi Brahmantyo bertindak sebagai ‘dalang’nya. Beliau adalah pengajar di program studi geologi ITB dan ketua kelompok riset cekungan Bandung dan Tasikmalaya. Kecintaan dan sensenya terhadap geologi mengantarnya kepada sebuah capaian yaitu penemuan fosil manusia pawon yang umurnya sekitar 9000 - 5600 tahun yang lalu. 

Natural Arch Bridge Gunung Hawu
Gunung Hawu menjadi awal dari perjalanan seru nan melelahkan hari itu. Di balik cerita gunung Hawu, Pasir Pabeasan, dan Gua Pawon terdapat suatu cerita rakyat yang menurut saya mengandung kesan jenaka. Hawu, pabeasan, dan pawon merupakan kata bahasa Sunda yang berarti tungku perapian untuk memasak, tempat beras, dan dapur. Sepengetahuan anda – maupun saya sebelum mendengar cerita dari Pak Budi - pastilah legenda Sangkuriang hanya cerita asal muasal terbentuknya gunung Tangkuban Perahu. Tetapi beberapa orang ‘menafsirkan’ ketika Sangkuriang marah, tidak hanya perahunya saja yang ia tendang hingga terbalik namun sebelumnya ia sudah memporakporandakan seisi dapurnya (pawon) hingga jatuhlah tungku (hawu) berikut tempat berasnya (pabeasan). Jenaka memang jika cerita ini kita personifikasikan akan sebesar apa tubuh Sangkuriang itu. Rombongan kemudian menelusuri jalan setapak untuk naik ke atas dan saya berkesempatan berdiri tepat di bibir lubang gunung Hawu tersebut yang jaraknya dengan kaki bukit menurut Pak Budi mencapai 90 meter. Gunung Hawu ini berdiri tidak sendirian. Ia berdiri sebelah selatan dengan jajaran bukit yang membentang hingga Sukabumi dan Bogor. Jajaran bukit tersebut yang sudah terbentuk sekitar 30 juta – 28 juta tahun silam ini kemudian dikenal sebagai formasi Raja Mandala. Cara berdiri gunung ini yang begitu tegap (sekitar 700 terhadap jurus horizontalnya) dan dindingnya yang berlubang - lubang dimanfaatkan oleh para penyuka tantangan untuk berolahraga wall climbing. Skygers dan Kopasus secara rutin mengadakan latihannya di sini.

Hamparan Batu Stone Garden
Puas dengan panorama Gunung Hawu rombongan kembali ke bus untuk menuju ke lokasi kedua yaitu stone garden. Testimoni Pak Budi terhadap kawasan ini adalah sekitar jutaan tahun silam daerah ini berada di bawah permukaan laut namun karena proses pergeseran lapisan tanah sehingga lapisan ini mencuat hingga >800 mdpl. Pernyataan ini bukan bualan karena memang ditemukan fosil koral dan binatang laut pada batuan di sini. Hal yang menarik dari tempat ini adalah batuan batuan besar yang tersusun acak namun indah. Di puncaknya terdapat sebuah makam yang oleh penduduk sekitar namakan makam mbah Jambrong. Terdapat suatu keganjilan di sana karena terdapat buah batu kali yang notabene ‘asing’ di ketinggian dan daerah karst seperti itu. Diperkirakan pada zaman dahulu kala batu tersebut dibawa dan disusun melingkar oleh sekelompok orang sebagai ritual pemujaan. Isu yang beredar mengabarkan bahwa makam tersebut tak berpenghuni meskipun arah makamnya tepat aturan pemakaman kaum muslim.   

Perjalanan Menuju Gua Pawon
Beranjak dari sana kami kemudian menulusuri jalan setapak yang disebut tanjakkan frustasi. Tak heran dinamakan seperti itu karena memang terrain dan geometrinya yang cukup sulit untuk dilalui. Namun semua itu terbayar lunas ketika kami tiba di saung dekat dengan Gua Pawon untuk beristirahat dan makan siang. Tenaga dan semangat rombongan geotrek pulih kembali ketika kami menyantap makanan yang disediakan panitia sambil beberapa orang mendirikan ibadah sholat. Perjalanan berlanjut dengan kata pengantar dari Pak Budi, beliau menceritakan kisah pribadinya dalam rangka pertemuannya dengan fosil manusia pawon. Benak pasti bertanya, apakah ia spesies yang berada dalam rangkaian evolusi manusia atau tidak. Jawabnya manusia pawon adalah homo sapiens spesies yang sama dengan pembaca artikel ini (hahaha). Kalimat terakhir telah terucap dan kami digiring oleh pak Budi dengan perintah menggenakan masker untuk proteksi terhadap bau kotoran kelelawar yang lebih menyengat dari bau masakan ibu. Tidak lama kami melakukan pendakian untuk mencapai lokasi penemuan fosil manusia Pawon. Selama pendakian sesekali burung walet melintas diatas kepala sambil berteriak (karena tidak tepat rasanya jika disebut berkicau atau bersiul). Jalur yang kami lalui tergolong mudah dilewati, namun jika tidak berhati – hati maka gua ini akan menjadi tricky dan benturan langit - langit gua yang rendah dengan kepala adalah balasannya, seperti apa yang saya alami. Setelah menyaksikan sendiri replika fosil manusia gua Pawon karena fosil aslinya telah disimpan oleh Balai Arkeologi Bandung, kemudian pak Budi melakukan kuis trivia dengan ganjaran buku berjudul ‘Merahnya Batu Merah’. Setelah kuis terjawab dan buku dibagikan kamipun berfoto bersama dan sesegera mungkin kembali ke bus untuk kembali ke kampus.

Pengalaman yang menyenangkan dan jelas menambah wawasan. Jika kejaran panitia dengan diadakannya geotrek ini adalah memperkenalkan keilmuaan geologi kepada masa kampus maka mereka berhasil. Jika kejarannya adalah menumbuhkan rasa kesadaran dan kecintaan masa kampus terhadap bumi dan sejarah dibaliknya, maka merekapun berhasil karena itulah yang saya rasakan. Terimakasih atas kearifan yang telah panitia tunjukkan selama berlangsungnya acara. Semoga acara seperti ini dapat lebih banyak melibatkan masa kampus. Sukses!!
  

Jumat, 31 Agustus 2012

Mengetahui KehendakNya dari CaraNya Sendiri



Di senja ini aku mendapat pelajaran. Aku tahu persis bahwa sutradara dari segala scenario kejadian yang ada di atas bumi ini ialah Tuhan. Dialah yang Maha Empunya. Dialah yang Maha Tahu dan Maha Bijak. Tuhan adalah sumber segala kebenaran. Kebenaran yang hakiki. Kebenaran yang tak dapat dipertanyakan apalagi didiskusikan. Kehidupan manusia pada dasarnya terkoridorkan atas kebenaran – kebenaran, namun kebenaran pun terkadang bias. Dia, si penulis scenario kehidupan, tidak akan merestui kelalaian manusia yang membiaskan kebenaran.
Dengan caranya, Ia membentuk cinta sempurna di antara sepasang suami – istri. Cinta yang tanpa pertanyaan. Cinta yang hanya ingin memberi dan sama sekali tidak menuntut balas. Hal yang membuka mata mereka terhadap kebenaran. Karena cintalah mereka mengalah. Mengalah terhadap ego diri masing – masing untuk sekedar menjadikan kekasih hati menjadi yang utama. Ia yang tanpa pertanyaan itu membentuk suatu hubungan yang tidak terelakkan meskipun kebenaran bias menancap di salah satunya.
Sehingga Tuhan yang adalah sumber kebenaran yang hakiki, meminjam cinta di antara sepasang kekasih itu untuk mengoreksi kelalaian manusia. Ia menggerakkan hati pasangan yang lainnya untuk tidak berhenti menjadikan ‘kebenaran’ menjadi benar dengan berbagai cara. Pengorbanan adalah bukti dari cinta yang sempurna. Mengesampingkan kepentingan bahkan keselamatan diri untuk memburu cintanya yang berada di balik jeruji. Ketika manusia melihat kebenaran yang hakiki itu dan bersedia untuk mengoreksinya meskipun hambatan di depan bak gunung es yang sanggup meruntuhkan Titanic, disanalah kata mustahil menjadi tanpa arti. Namun belum sampai di sana, Ia akan mengujimu, menguji ketahanan diri dan keteguhan hatimu. Kamu akan hampir menyerah, namun jika tepat di masa itu kau menolak maka yang ada di depanmu hanyalah mukjizat. Segala rencanamu menjadi rancanganNya dan segala ciptaanNya akan mendukungmu untuk menyelesaikannya hingga tuntas. Hingga kebenaran dibuktikan agar manusia belajar untuk tidak lagi berlaku lalai.
Itulah yang kudapat setelah menyaksikan The Next 3 Days.
Rabu, 29 Agustus 2012


Jumat, 17 Agustus 2012

Pendidikan dan Analoginya


begini teman teman, hal ini menarik untuk disimak karena tulisan ini saya buat karena buah dari pergulatan pikiran saya mengenai bagaimana seharusnya KONSEP pendidikan di negri ini. Benar adanya bahwa pendidikan harus diberikan dan didapatkan secara bertahap atau berjenjang dengan minat dan bakat yang tepat bagi peserta didik. 

Diceritakan pada mulanya adalah seorang anak berinteraksi dengan pendidikan yaitu rumah barunya yang ditinggali bersama pendidiknya yaitu kedua orangtuanya.

Di hari pertama anak ini menempati rumah barunya (setingkat SD) ia mulai mengobservasi dengan kemampuannya sendiri. Ia melihat bentuk dan warna tiap - tiap benda yang ada di rumah tersebut. Pandangannya terhadap pendidikan masih terlalu bias dan sama sekali tanpa arah. Pun, dia masih kesulitan membedakan benda satu dengan benda lainnya berikut dengan nama benda tersebut. Secara bertahap kedua orangtuanya mengenalkan dia nama-nama benda tersebut, menghitung jumlah benda yang ada di dalam rumah, dan mulai mengklasifikasikan benda berdasarkan letak ruangnya. Proses ini terus berlanjut setiap hari dan semakin banyak benda yang ia ketahui. 

Di tahapan selanjutnya (setingkat SMP) kedua orang tua mulai memberitahu fungsi dari tiap benda yang ada di dalam rumah tersebut, membimbingnya untuk mengoperasikan benda tersebut yang kemudian memicu rasa keingintahuan si anak karena ia merasa dilibatkan. Ayahnya mulai melihat suatu potensi dalam diri anaknya. Bagaimana dengan apiknya anaknya mulai menekan tuts piano, memainkan dvd player, mengayunkan raket badminton, dan sebagainya. Kegiatan ini berlangsung dan berulang namun dengan benda – benda yang berbeda tiap harinya hingga rasa ingin tahu anak ini makin memuncak, ia mulai bertanya latar belakang benda - benda di rumah tersebut, bagaimana cara membuatnya, dari apa benda tersebut dibentuk,dan sebagainya. Kedua orangtuanyapun dengan senang hati menceritakan sejarah dan kenangan yang dikandung dari tiap benda tersebut sehingga memiliki nilai historis tersendiri. Dalam ceritanya sang ayah menyiratkan kecintaannya kepada tiap benda di rumah yang kemudian memunculkan keinginan sang Ayah untuk merawat dan menjaga setiap benda yang ada di rumahnya. Si anak sungguh menyimak dengan seksama tiap kali ayahnya bercerita tentang sejarah benda - benda tersebut. Dari sini ia mulai mengenal budaya keluarganya karena ia telah mengetahui seluk beluk kedua orangtuanya melalui cerita si Ayah.Tak sengaja sesekali ia melihat ayah dengan telatennya menggunting dan menata tanaman di kebun dan secara tidak langsung ayahnya telah mencontohkan sekaligus menanamkan rasa kecintaan terhadap benda - benda di rumahnya itu sendiri ke dalam jiwa anaknya. Ya, ayahnya sudah menjadi teladan bagi dirinya.

Tahap berikutnya (SMA) si anak telah terbiasa menggunakan dan merawat benda – benda yang ada di rumah. Ia sudah bisa membedakan benda – benda bukan hanya berdasarkan warna atau bentuk tapi berdasarkan fungsi sehingga kelompok benda dengan fungsi yang melengkapi dapat ia kelompokkan menjadi ke dalam suatu ruangan yang spesifik. Ia tahu meletakkan gayung, ember, dan sikat ke dalam kamar mandi. Perhatiannya terhadap suatu ruangan mulai meningkat. Kepada ruang keluarga ia letakkan televisi, sofa dan karpet. Namun pengetahuannya masih terbatas terhadap suatu benda yang cukup kompleks seperti televisi. Ia hanya tahu bagian luar dari televisi namun tidak mengerti jelas ada apa di dalamnya sehingga televisi dapat menghasilkan gambar dan suara. Di penghujung tahap ini ia mulai memfokuskan perhatian hanya pada televisi saja.

Tahapan berlanjut (S1/Sarjana) ketika secara kebetulan televisi ruang keluarga rusak. Televisi dapat menyala namun gambar tidak muncul di layar dan suara yang keluarpun putus - putus. Ia bertekad untuk memperbaikinya. Tekad tersebut menghantarkan dia hingga berhasil membuka casing TV dan melihat isi di dalam TV. Ia memperhatikan tiap komponen yang ada. Membedakan warna, bentuk, letak, fungsi, mekanisme kerja,hubungan antar komponen dan sebagainya. Ia berharap dapat menyolusikan kerusakan ini dengan inovasinya sendiri namun hingga penghujung tahapan ini ia hanya mampu mengidentifikasi masalah dan penyebabnya.

Akar masalah telah ia temukan dan ia sedang berada di tahapan selanjutnya (S2/Magister) untuk menyolusikan dengan caranya sendiri. Ia mendedikasikan waktu dan tenaganya untuk melakukan beberapa percobaan terhadap komponen TV yang bermasalah tersebut. Namun karena di tahapan sebelumnya ia telah dengan jelas mendapatkan penyebabnya dengan cakupan yang sekecil mungkin, maka solusi pun didapat dengan tempo yang tidak telalu lama. Ya, di penghujung tahapan ini ia akhirnya berhasil memperbaiki televisi idamannya dengan percobaan yang ia konsepkan dan lakukan sendiri.

Kemampuan si anak memperbaiki televisi menjadi berita di kalangan tetangga. Banyak tetangga yang meminta ia untuk memperbaiki televisinya yang rusak. Beberapa kali ia menyanggupi permintaan tersebut, namun ia merasa kewalahan dan berinisiatif untuk membagikan keahliannya dalam memperbaiki televisi kepada tetangga yang lain dengan harapan permintaan memperbaiki TV berkurang karena semakin banyak orang yang dapat memperbaiki TV. Kerendahan hati untuk berbagi keahlian ini membawa ia ke tahap pendidikan selanjutnya (S3/Doktor). Ia mulai mempersiapkan diri untuk memberikan kursus reparasi TV kepada tetangga-tetangganya. Mengobservasi ulang setiap komponen dalam maupun luar televisi, mengklasifikasikannya dengan jelas, memikirkan kembali masalah-masalah apa saja yang mungkin muncul pada komponen TV yang dapat mengakibatkan kerusakan, dan memberikan solusi dari tiap kemungkinan masalah yang dapat terjadi. Semua hal yang ia lakukan tadi tidak lupa ia catat yang kemudian ia jadikan buku panduan untuk memberikan pelajaran kursus reparasi TV kepada tetangganya.
Jadi, biaskah konsep pendidikan di negri ini? Ketika di bangku SD seorang anak sudah disuapi bahasa asing sehingga mengesampingkan nilai-nilai budaya leluhurnya? Ketika seseorang mengejar gelar doctor bukan karena desakan hati untuk mendidik namun jabatan dan kehormatan yang lebih tinggi di dunia praktisi?

17/08/1945 ~ 17/08/2012

67 Tahun Indonesia Merdeka ; banyak orang merayakan hari ini dengan berbagai cara, dengan caranya sendiri. Aku pun begitu. Tidak melulu (meskipun perlu) dirayakan dengan upacara pengibaran bendera merah putih. Aku merayakannya dengan sederhana. Di depan komputer lipat, jaringan internet, dan sebuah halaman bernama blog. Hari ini kujadikan hari untuk membentuk blog pertamaku. Alasannya sederhana, aku hanya mencari tanggal yang mudah diingat agar blog ku ini bisa menjadi memori tersendiri bagiku. Alasan kedua ya karena 17 Agustus hari dengan momentum yang paling dekat dengan keputusanku untuk akhirnya membuat blog. Semoga aku bisa konsisten dalam menulis. Menulis sesuatu yang dekat dengan keseharianku dan yang terpenting menulis sesuatu yang bernilai dari keseharianku.

Terimakasih para pejuang, sehingga kini aku dan generasiku bisa menikmati kemerdekaan yang dahulu kalian impikan. Terimakasih.